Akhlaq Al-Karimah dan Adat Istiadat Bangsa Arab*

A. PENDAHULUAN

Kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam benar-benar mengagumkan. Hanya dalam waktu kurang dari 25 tahun beliau berhasil mengubah masyarakat jahiliah yang sangat dekaden menjadi masyarakat yang berperadaban tinggi dan sangat disegani bangsa-bangsa di sekitarnya. Beliau berhasil menegakkan suatu negara yang oleh sosiolog modern, Robert M. Bella diakui sebagai negara modern.

Bangsa Arab sepinggalan Nabi Isa as dan sebelum diutusnya Muhammad SAW memang memiliki akhlaq yang rusak (buruk) yang dikenal dengan sebutan jahiliyah. Karena itu misi utama kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah menyempurnakan akhlak. Pada aras ini metode utama yang digunakan Nabi Muhammad SAW adalah keteladanan.

Makalah ini sedikit banyak akan mengkaji persoalan akhlaqul karimah dan adat-istiadat bangsa Arab, karena seperti yang kita ketahui bahwa ajaran tentang akhlaq al karimah ini melalui keteladanan Nabi Muhammad SAW terbukti sukses membawa perubahan peradaban bangsa Arab hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad. Nabi Muhammad SAW sendiri diutus oleh Allah SWT kepada manusia, sebagai penyempurna akhlak manusia, berdasarkan hadits beliau: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak”.

B. TINJAUAN UMUM TENTANG AKHLAQUL KARIMAH

Seperti yang kita mafhumi, para ulama membagi ruang lingkup syari’at Islam ke dalam 3 hal pokok: (1) Aqidah; (2) Ibadah; dan (3) Akhlaq. Jika diibaratkan pohon maka aqidah adalah akarnya, ibadah sebagai batang, ranting dan daunnya, sedangkan akhlaq sebagai bunga atau buahnya. Tiga hal ini saling berkaitan satu sama lainnya. Aqidah yang benar harus diwujudkan dengan ibadah yang benar dan baik serta dihiasi oleh akhlaq yang terpuji/ mulia.

Dalam kaitannya dengan kajian pada makalah ini, akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Akhlak umumnya disama-artikan dengan arti kata budi pekerti, kesusilaan, sopan santun (dalam Bahasa Indonesia), atau tidak berbeda pula dengan arti kata etika (ethic). Ringkasnya, pengertian akhlak umumnya berkaitan dengan sistem daripada prinsip-prinsip moral tentang baik dan buruk: Baik dan buruk tindakan atau perilaku.

Maka akhlak adalah perilaku kita baik lisan, perbuatan fisik, bahkan perbuatan diam kita. Semua tindak tanduk kita adalah akhlak kita. Akhlaqul Karimah seperti yang menjadi kajian pada makalah ini mempunyai pengertian yang sama dengan akhlak terpuji, diwujudkan dalam bentuk sikap, ucapan, dan perbuatan yang baik sesuai ajaran Islam. Selain akhlaqul Karimah kita juga mengenal akhlaq al Madzmumah (akhlak tercela).

Akhlaqul Karimah yang ditujukan kepada Allah SWT dapat berupa ibadah kepada-Nya, akhlaqul karimah kepada Rasulullah SAW yaitu dengan mengikuti ajaran-ajarannya dan menjauhi larangan-larangannya, serta akhlaqul karimah pada sesama manusia ditunjukkan dengan bersikap baik pada manusia yang lain, demikian seterusnya.

Menjadi manusia yang ber-akhlaqul karimah (berakhlaq mulia) tentu bukan sesuatu yang mudah, karena akhlak adalah cerminan hati. Ketika seseorang ber-akhlaqul karimah (akhlak terpuji) maka tentu harus juga mempunyai hati yang bersih dan jernih. Orang yang ber-akhlaqul karimah tentu saja disukai oleh orang-orang di sekitarnya. Sementara orang yang mempunyai akhlaq al Madzmumah (akhlak tercela) hidupnya akan suram, dapat membawa kerusakan baik bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Itulah sebabnya kenapa Islam menyuruh umatnya, untuk memperbaiki akhlaknya.

Dari An Nawwas ra., ia berkata: “Saya menanyakan tentang kebajikan dan dosa (kejahatan) pada Rasulullah SAW.” Kemudian beliau menjawab, “Kebajikan itu adalah budi pekerti yang baik, dan dosa (kejahatan) itu adalah sesuatu yang merisaukan hatimu dan kamu tidak senang bila hal itu diketahui orang lain (HR Muslim).

C. IBADAH HAJI SEBAGAI RUKUN ISLAM

Rukun Islam yang kelima seperti yang kita pahami adalah melaksanakan haji. Ia wajib dikerjakan bagi orang yang mampu. Artinya, parameter kewajiban itu adalah mampu untuk melaksanakannya. Sehingga, disini tergambar bahwa Islam tidak memberatkan bagi umatnya dalam mengikuti segala ajarannya selama ada halangan yang membuatnya tidak bisa memenuhi kewajiban itu. Ada pertimbangan-pertimbangan yang bersifat kemanusiaan dalam menjalankan tuntunan agama. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa ibadah yang dikerjakan bukan semata-mata untuk Allah, tetapi untuk kepentingan manusia sendiri. Termasuk pada persoalan ibadah haji.

Sudah maklum, haji merupakan ibadah yang dilakukan dalam satu waktu (hanya beberapa hari) sepanjang tahun dan disatu tempat. Sehingga, ia meniscayakan untuk dikerjakan bersama-sama dengan umat Islam lain. Makanya, ada kalangan yang kemudian menyebut haji sebagai sarana pertemuan umat Islam sedunia.

Dalam ensiklopedi Islam, haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Ia diambil dari etimologi bahasa Arab dimana kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja. Menurut istilah syara’, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Yang dimaksud dengan tempat-tempat tertentu dalam definisi di atas, selain Ka’bah dan Mas’a (tempat sa’i), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Sedangkan yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Sedangkan amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.

Ibadah yang merupakan rukun Islam kelima ini adalah wajib dilaksanakan oleh umat Islam yang memiliki kemampuan (istita’ah) mengerjakannya. Makanya, di antara syarat wajib haji selain harus beragama Islam, berakal, baligh, juga disyaratkan memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, baik kemampuan dalam soal harta, fisik maupun mental, dan merdeka (bukan hamba sahaya).

Pemahaman tersebut didasarkan pada al-Qur’an surat Ali Imran yang menyebutkan:

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah Dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (QS. Ali Imron: 97).

 Berkaitan dengan batasan atau kriteria istita’ah (mampu) bagi orang yang akan melaksanakan ibadah haji, sebagaimana dalam ayat tersebut, para ulama berbeda pendapat.

Pertama, ulama Hanafiyah mengatakan, yang dimaksud dengan mampu melaksanakan haji adalah kemampuan fisik, dalam arti sehat fisik, tidak wajib bagi orang yang sakit, tua renta, dan orang buta; mempunyai harta, yaitu bekal dan kendaraan untuk pulang pergi, di samping bekal untuk nafkah keluarga yang ditinggal selama pergi haji; dan adanya kemampuan keamanan, yaitu aman dalam perjalanan. Khusus untuk wanita, juga harus didampingi oleh mahramnya atau suaminya.

Kedua, menurut ulama Syafi’iyah yang dimaksud mampu adalah sehat fisik, memiliki biaya, adanya kendaraan, aman dalam perjalanan, khusus untuk wanita harus didampingi suami, mahram, atau wanita lain yang dipercaya.

Ketiga, menurut Malikiyah, yang dimaksud mampu adalah dapat sampai ke Makkah baik dengan berjalan kaki maupun naik kendaraan. Hal ini hanya disyaratkan untuk perginya saja dan tidak untuk pulangnya, kecuali jika tidak memungkinkan bagi yang bersangkutan untuk bermukin di Makkah dan sekitarnya setelah melaksanakan ibadah haji. Mampu juga mempunyai pengertian sehat fisik, memiliki bekal, dan aman dalam perjalanan.

Keempat, menurut Hanabilah, mampu adalah memiliki biaya dan adanya kendaraan. Dan kendaraan ini hanya disyaratkan bagi orang yang tinggal jauh dari Makkah yang berjarak sejauh perjalanan qasar salat, yaitu sekitar 80 km.

Dari beberapa interpretasi terhadap syarat istita’ah sebagaimana ketentuan al-Qur’an, dapat dipahami bahwa kriteria mampu itu adalah segala sesuatu yang menjadikannya bisa melakukan rukun haji dengan sempurna, tanpa ada hambatan apapun. Tanpa hambatan di sini maksudnya adalah adanya rasa aman selama perjalanan, nafkah keluarga yang ditinggal selama haji cukup, dan bagi perempuan ada yang menjaga baik mahramnya atau bersama perempuan yang dipercaya.

Karena hal-hal tersebut merupakan syarat yang harus terpenuhi dalam melaksanakan haji, maka ketika syarat-syarat itu tidak terpenuhi, kewajiban itu menjadi hilang gugur. Islam memberikan kewajiban kepada umatnya sesuai dengan kemampuannya.

Selain itu, di sadari atau tidak, sebenarnya sebelum Islam datang, bangsa Arab sudah menunaikan ibadah haji pada bulan Dzulhijjah. Setiap tahun, pada musim haji, mereka berdatangan ke Makkah dari segala penjuru untuk menunaikan kewajiban ibadah haji. Latar belakang ibadah haji ini juga didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh nabi-nabi sebelumnya, terutama Nabi Ibrahim. Ritual thawaf, misalnya, merupakan ibadah yang dilaksanakan oleh umat-umat sebelum Nabi Ibarahim. Ritual sa’i, yakni berlari antara bukit Shafa dan Marwah (daerah tinggi di sekitar Ka’bah yang sekarang sudah menjadi satu dengan Masjidil Haram, Makkah), juga didasarkan untuk mengenang ritual istri Nabi Ibrahim bernama Siti Hajar ketika mencari air untuk anaknya, Nabi Ismail.

Hal itu juga dapat dibuktikan dengan pernyataan al-Qur’an sendiri di dalam surat al-Hajj yang menjelaskan bahwa Allah memerintahkan nabi Ibrahim memanggil umat manusia untuk melaksanakan haji ke Baitullah. Dengan sebab panggilan itulah, umat manusia akan berdatangan dari segenap penjuru.

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat buat mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah untuk dimakan oleh orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah melakukan thawaf di Bait al-Atiq. (QS. Al-Hajj: 27-29)

Dengan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa umat-umat sebelum Islam juga menjalankan ritual-ritual tersebut sebagaimana yang dijalankan oleh kaum muslimin hingga sekarang, seperti talbiyah (meski dulu dengan beberapa ungkapan bernada syirik), ihram, memakai pakaian khas ihram, membawa hewan kurban dan mengumumkannya, wukuf di Arafah, menuju Muzdalifah, bertolak ke Mina untuk melempar jumrah, menyembelih kurban, thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, mencium Hajar Aswad (sebagai bentuk penghormatan padanya), Sa’i antara bukit Shafa dan Marwah. Mereka juga menamai hari kedelapan Dzulhijjah dengan nama Yaum al-Tarwiyah (hari Tarwiyah), wukuf di Arafah pada hari kesembilan, dan pada hari kesepuluh mulai menuju Mina dan melempar jumrah. Bahkan mereka pun menyebut hari-hari itu sebagai hari-hari Tasyriq. Begitu pula mereka melaksanakan umrah di luar musim haji.

Kemudian ketika Islam datang ritual bangsa Arab (sebelumnya) tersebut juga dipraktikkan dengan rangkaian ritual yang sama persis berikut pengistilahannya. Hanya saja Islam membersihkan ibadah ini dari perilaku syirik, seperti ungkapan-ungkapan yang terangkum dalam talbiyah mereka. Islam juga melarang berthawaf secara telanjang (tanpa busana). Akan tetapi perlu ditegaskan di sini bahwa bangsa Arab melakukan prosesi tersebut, bukan karena kebejatan moral mereka, melainkan lebih dikarenakan pengagungan mereka yang berlebihan terhadap Ka’bah dan Hajar Aswad. Mereka segan berthawaf mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad dengan baju yang pernah mereka pakai untuk berbuat dosa atau berbuat hal-hal yang tidak sesuai dengan kesucian keduanya. Bahkan sebagian dari mereka ada yang membeli pakaian dari orang-orang Quraisy untuk busana thawaf, dengan persepsi bahwa putra-putra Quraisy merupakan orang-orang yang suci dan disiplin dalam beribadah.

Jadi, ritual haji yang dilaksanakan oleh Islam itu adalah praktik-praktik yang tidak bertentangan dengan konsep syari’at. Sebab, praktik-praktik yang menyimpang telah dirubah dan diganti sesuai tuntunan ajaran Islam. Bentuk umum pelaksanaannya masih tetap ada, seperti thawaf, sa’i, wukuf, dan lempar jumrah. Hanya saja karena pelaksanaannya banyak yang tidak sesuai lagi dengan syariat yang sebenarnya, Islam datang dan memperbaiki segi-segi yang salah dan tetap menjalankan ritual yang sesuai dengan petunjuk syara’ (syariat), sebagaimana yang diatur dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

D. IBADAH HAJI DAN AKHLAQ AL KARIMAH

Dalam beribadah kita tidak dapat memisahkannya dengan akhlaq, termasuk ibadah haji. Pada aras ini, ibadah haji memiliki dua dimensi: dimensi ritual (ibadah mahdhah) dan dimensi sosial (ibadah ghairu mahdhah).

Selama melaksanakan ritual haji, sama halnya dengan melaksanakan shalat, yaitu merujuk pada yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Jika dengan shalat Rasulullah SAW menyatakan:

Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat” (HR. Ahmad dan Bukhary).

Maka dalam hal haji dan umrahpun Rasulullah SAW menyatakan: “Ambillah cara mengerjakan haji dan umrahmu dariku” (HR. Muslim dari Jabir).

Namun demikian, ada perbuatan yang di luar ibadah haji benar dan mungkin baik dilakukan, tetapi dalam ibadah haji justru terlarang (terutama ketika ihram). Selain itu, selama melaksanakan ibadah haji di tanah suci kita senantiasa berhubungan dengan “orang lain”,  lebih-lebih ketika kita sedang tidak melaksanakan ritual haji. Dimensi  inilah yang disebut dimensi sosial ibadah haji. Dalam dimensi ini kita harus dapat memahami karakter dan adat istiadat orang lain, agar hubungan sosial dan dalam ibadah ritual haji dapat berjalan secara baik.

Baik ibadah ritual maupun ibadah sosial pada ibadah haji, keduanya memerlukan  akhlaq al karimah. Pada prinsipnya Allah SWT melarang untuk melakukan 3 hal selama melaksanakan ibadah haji  yang secara langsung bersinggungan dengan Akhlaq al Karimah:

  1. Tidak boleh berbuat cabul (rapats)
  2. Tidak boleh berbuat fasiq (fusuq);
  3. Tidak boleh berbantahan (jidal).

 Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang mewajibkan (atas dirinya) untuk berhaji dalam bulan-bulan itu, maka tidak ada rafats, tidak ada kefasikan dan tidak ada berbantah-bantahan di dalam haji. Dan apapun yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Alah mengetahuinya. Berbekallah, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai Ulu al-Albab. (QS al-Baqarah: 197)

 Larangan terhadap rafats, perbuatan fasiq dan perdebatan adalah ajaran etika. Tetapi di sisi lain dia adalah arahan agar suasana haji menjadi suasana yang kondusif untuk melakukan aktifitas ibadah bersama. Perkataan jorok dan kotor akan mengeruhkan suasana ruhani. Perbuatan fasik mengeliminir nilai ibadah itu sendiri. Dan berdebat akan merusak hubungan antara jamaah haji.

Allah juga menginginkan persamaan derajat dan kebersamaan aktifitas. Oleh karena itu, Al-Qur’an lalu menurunkan perintah agar semua jamaah haji berwukuf dan bergerak dari tempat yang sama secara bersama-sama. Tidak ada diskriminasi golongan dalam Islam. Allah berfirman:

Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al-Baqarah: 199)

Semangat kebersamaan dalam haji ini terus Allah ajarkan bahkan setelah tahallul menyembelih hewan kurban. Hal itu terlihat dalam perintah Allah, misalnya, untuk membagikan daging hewan tersebut ke semua orang kaya ataupun miskin. Allah berfirman:

Dan unta Kami menjadikannya untuk kamu sebagian dari syi’ar-syi’ar Allah. Bagi kamu kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah nama Allah atasnya dalam keadaan berdiri. Lalu apabila dia (hewan kurban itu) telah roboh, maka makanlah sebagian darinya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya dan yang meminta. Demikian Kami telah menundukkannya kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur (QS al-Hajj: 36).

 Ayat tersebut memerintahkan orang yang berkurban agar selain mengkonsumsi hewan kurban, juga memberikan daging kurban itu untuk orang yang berkecukupan (al-qani’) sebagai hadiah dan juga kepada yang membutuhkan (al-mu’tar) sebagai sedekah. Allah menginginkan dalam ibadah haji agar semua orang bergembira dan menikmati ibadah yang kita lakukan. Allah tidak menginginkan umat Islam egois dalam apa pun termasuk dalam prosesi ibadah.

Jadi, semangat kebersamaan begitu jelas di dalam haji. Selain pada persoalan saling berbagi dengan orang lain, semangat kebersamaan itu juga ditunjukkan dengan pakaian ihram. Setiap orang melepas pakaiannya dan memakai pakaian yang satu (pakaian ihram), baik yang miskin, kaya, tua, muda, pejabat, rakyat dan lain-lain. Prinsip persatuan begitu jelas terlihat dalam haji. Pelajaran penting yang mesti dipahami dari ritual ini adalah bahwa orang-orang muslim harus merealisasikan tauhid dan persatuan. Tauhid adalah hak Allah dan persatuan adalah hak orang-orang muslim. Dalam al-Qur’an disebutkan:

Sesungguhnya ini kalian umat yang satu. Aku adalah Tuhan kalian, maka sembahlah Aku (QS. Al-Anbiya’: 92)

Perdamaian adalah prinsip yang sejak awal sudah dikumandangkan oleh Islam. Haji merupakan jalan terbaik untuk melatih seorang muslim dalam perdamaian dan menanamkan semangat perdamaian. Haji adalah wisata perdamaian ke negeri perdamaian dan pada waktu perdamaian.
Makkah sendiri memiliki istilah Bakkah dan al-balad al-amin, yaitu kota yang aman, negeri yang terlindungi. Kemudian disana dilengkapi dengan Ka’bah. Ka’bah ini diyakini sebagai pusat spiritual. Sebab, di dalam Bibel, yaitu ketika ada sebuah ayat dalam Kitab Genesis terdapat kisah tentang Isma’il menuju lembah bernama Bakkah. Dengan demikian dapat dipahami bahwa Makkah merupakan pusat pertemuan umat sedunia sebagai makhluk yang mencari ridha Allah. Sehingga, semua umat yang ada di sana harus menyadari bahwa dihadapan Yang Maha Pencipta semuanya sama, baik budaya, suku, ekonomi, jabatan, dan perbedaan-perbedaan lain. Semuanya memiliki status sama, yaitu mencari ridha Allah. Inilah salah satu hal penting hikmah ritual haji yang harus disadari oleh umat manusia.

Tetapi, hal yang memprihatinkan adalah sebagian jamaah haji tidak memahami spirit yang ditanamkan al-Qur’an tersebut. Meskipun al-Qur’an mengajarkan semangat kebersamaan, sebagian jamaah haji justru mempraktikkan individualisme dan egoisme dalam ibadah haji. Banyak jamaah haji yang dalam tawaf misalnya bukannya bergerak secara tertib bersama seluruh jamaah haji, justru menabrak ke sana kemari dan mengganggu jamaah lain. Dalam melempar jumrah juga sering terjadi kesalahan yang sama bahkan sering membawa korban karena kesalahan tersebut. Ibadah melempar jumrah selalu menjadi kacau karena banyak jamaah haji berpikir egois dan tidak bisa bersikap tertib untuk melakukan jumrah dalam kebersamaan. Jika semua jamaah haji mempunyai semangat kebersamaan dan terbiasa pada ketertiban tidak perlu bersikut-sikutan apalagi bertabrakan. Jika semua jamaah haji memahami arah pergerakan ibadah dan mengikutinya secara baik semua proses haji akan menjadi gerakan kolektif yang begitu indah.

Dalam ibadah haji seorang muslim seharusnya semakin mengerti bagaimana gerakan yang teratur. Seorang muslim dalam momen international ini seharusnya semakin mengerti bahwa setiap individu adalah bagian integral dari sebuah komunitas besar. Seorang muslim selayaknya terikat dan tersistem dalam sistem sosial, sistem manajemen dan sistem politik yang rapi sebagaimana haji adalah sistem ibadah berjamaah yang memperlihatkan kenyataan tersebut.

E. IBADAH HAJI DAN MEMAHAMI PERBEDAAN ORANG LAIN

Secara teologis orang-orang yang melaksanakan ibadah haji adalah “tamu Allah”. Namun secara geografis, adalah tamu pemerintah Arab Saudi yang nota bene berpenduduk bangsa Arab. Dalam sudut pandang sosiologis, orang-orang yang melaksanakan haji pasti berhubungan dengan orang lain dari berbagai suku bangsa yang memiliki banyak perbedaan; warna kulit, bahasa, karakter, kebiasaan sampai pada postur tubuh, di samping adanya persamaan.

Maka dalam melaksanakan ibadah haji, umat Islam perlu memahami perbedaan pada orang lain, termasuk karakter orang Arab.

Senyatanya kita akan menyaksikan bagaimana budaya (adat-istiadat) memberikan pengaruh terhadap pemahaman dan pengamalan ajaran agama, termasuk dalam pelaksanaan ibadah haji.

Kesadaran kita tentang perbedaan itu akan membuat kita mudah memahami orang lain dan tidak merasa terganggu untuk melaksanakan ibadah kita, tanpa harus merusak keyakinan dan mengorbankan karakter bangsa kita.

F. PENUTUP

Akhlaq al karimah pada prinsipnya berlaku universal (tanpa batas ruang dan waktu). Karena misi penyempurnaan akhlaq oleh Nabi adalah untuk  seluruh umat manusia bahkan kesemestaan alam.

Akhlaq al-Karimah yang bersifat universal juga dipengaruhi oleh budaya bangsa (umatnya) yang kemudian melahirkan karakter bangsa dan menjadi ciri kebangsaannya.

Jamaah haji Indonesia dikenal oleh jamaah haji di dunia sebagai jamaah yang ramah, sopan, berprilaku baik, di samping bertubuh kecil tetapi ligat, dan lain sebagainya. Di balik keramahan, murah senyum, penampilan yang cantik dari jemaah Indonesia tak jarang kemudian menimbulkan masalah lain.

Di satu sisi karakter tersebut perlu dipertahankan karena telah menjadi simbol karakter bangsa Indonesia, namun di sisi lain masalah-masalah tersebut patut didiskusikan lebih lanjut untuk dijadikan perhatian bersama.

Sebagai penutup, pelaksanaan ibadah haji senyatanya telah mempertemukan umat Islam di seluruh dunia dengan berbagai suku bangsa, bahasa, warna kulit, postur tubuh, adat budaya dan karakter yang berbeda. Karena itu perlu kemampuan untuk memahami, menghargai dan menghormati perbedaan tersebut agar kita tidak saja merasa tidak terganggu tetapi merasa aman dan nyaman dalam beribadah haji.

Dengan mengamalkan akhlaq al karimah kita dapat menunjukkan karakter bangsa kita, karena jamaah haji adalah sekaligus duta umat Islam dan seluruh masyarakat bangsanya.***


* Makalah disampaikan dalam kegiatan orientasi peningkatan kualitas pembimbing haji dan KBIH se-Kalbar

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco
 

Switch to our mobile site